Jumat, 14 Mei 2010

SEJARAH PERKEMBANGAN HADIS DAN KEMUNCULAN ILMU HADIS

A. PENDAHULUAN

Hadis merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al- Qur'an. Dan hadis berfungsi sebagai penjelas dan penegas ayat- ayat Al- Qur'an yang masih bersifat umum dan global. Bahkan hadis kadang juga memuat hukum yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an. [khum,2008,14,9U] Menurut ahli hadis, pengertian hadis adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan hal ihwal tentang nabi Muhammad SAW, sedangkan menurut lainnya adalah segala sesuatu yang bersumber dari nabi Muhammad, baik berupa perkataan,perbuatan,maupun ketetapannya.[muda,2007,14,1U]
*Permasalahan*
Berlainan halnya dengan Al- Qur'an, hadis tidak dicatat,tidak dihafal dizaman nabi Muhammad SAW. Alasan yangselalu dikemukakan ialah bahwa pencatatan dan penghafalan hadis dilarang nabi karena dikuatirkan bahwa dengan demikian akan terjadi percampur-bauran antara Al-Qur'an sebagai sabda Tuhan dan hadis sebagai ucapan-ucapanNabi. [nasu,1985,28,3D] Karena hadis tidak dicatat dan dihapal dari sejak semula, tidaklah diketahui pasti mana hadis yang benar - benar dari Nabi dan mana hadis yang dibuat-buat. [nasu,1985,29,17U] Atas dasar uraian diatas muncul permasalahan kapankah pertumbuhan dan perkembangan hadis dimulai, dan dengan apa suatu hadis itu dapat dikatakan benar atau dibuat-buat?

B. PEMBAHASAN

Membicarakan hadis pada masa Rasulullah SAW berarti membicarakan hadis pada awal pertumbuhannya. Dalam uraiannya akan berkaitan langsung dengan pribadi Rasululla SAW sebagai sumber hadis. Rasulullah SAW telah membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai ahli waris pertama ajaran Islam. [Muda,2007,87,5D]
Pada masa Rasulullah masih hidup, hadis belum mendapat perhatian sepenuhnya seperti Al-Qur'an. Para sahabat selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk menulis dan mengabadikan ayat-ayat Al-Qur'an diatas benda-benda yang dapat ditulisi. [Nata,1996,162,8D] Wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW dijelaskan melalui perkataan (aqwal), perbuatan (af'al) dan taqrirnya, sehingga apa yang didengar, dilihat, dan disaksikan oleh para sahabat dapat dijadikan pedoman bagi amaliah dan ubudiah mereka. Pada masa ini Rasulullah SAW merupakan contoh satu-satunya bagi para sahabat, karena beliau memiliki sifat keempurnaan dan keutamaan selaku Rasul Allah SWT yang berbeda dengan manusia lainnya. [Muda,2007,88,3U]
Penyebaran hadis pada masa Nabi SAW dilakukan dengan informasi dari mulut ke mulut. Pada saat itu, hadis dengan cepat menyebar dikalangan para sahabat yang ada di berbagai pelosok daerah. Ini semua disebabkan semangat dan antusiasme para sahabat untuk memperoleh atau mencari hadis Nabi SAW serta menyebarkannya kepada orang lain. [Khum,2008,35, 3U]
Untuk memelihara kemurniaan dan kemaslahatan Al-Qur'an dan hadis sebagai dua sumber ajaran Islam, Rasulullah SAW menggunakan jalan berbeda terhadap Al-Qur'anbeliau mengintruksikan kepada para sahabat untuk menulis dan menghafalnya. Sedangkan terhadap hadi , beliau menyuruh menghafal dan melarang menulis secara resmi. [Muda,2007,90,6D] Tetapi larangan tersebut tidak menutup adanya izin menulis hadis kepada orang-orang tertentu. Suatu riwayat menyebutkan bahwa beliau disamping melarang, juga memerintahkan kepada beberapa orang sahabat tertentu untuk menulis hadis. [Nata,1996,164,4U]
Setelah Nabi SAW wafat, penyebaran hadis masih memiliki kesamaan dengan masa ketika Nabi SAW masih hidup. Hadis hanya dihafal dan ditulis secara pribadi. [Khum,2008,36,5U] Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat, khususnya Khulafa Ar-Rasyidin, yaitu sekitar tahun 11 H sampai 40 H. Masa ini disebut juga dengan masa sahabat besar. Karena pada masa ini perhatian para sahabat masih berfokus pada pemeliharaan dan penyebaran AL-Qur'an, periwayatan hadis belum begitu berkembang dan masih dibatasi. Oleh karena itu, para ulama menganggap masalah ini sebagai masa yang menunjukkan adanya pembatasan periwayatan. [Muda,2007,95,1U]
Selanjutnya pada dasar periwayatan yang dilakukan oleh kalangan tabi'in tidak begitu berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat. Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak berbeda dengan yang dihadapi para sahabat. Pada masa ini Al-Qur'an telah dikumpulkan dalam satu mushaf. Dipihak lain, para sahabat ahli hadis telah menyebar kebeberapa wilayah kekuasaan Islam, sehingga tabi'in dapat mempelajari hadis dari mereka. Pesatnya perluasan wilayah kekuasaan Islam dan meningkatnya penyebaran para sahabat kedaerah- daerah tersebut menjadikan masa ini dikenal dengan masa penyebaran periwayatan hadis. [Muda,2007,101,1U]
Penulisan secara resmi baru terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (wafat 101 H). Beliau khawatir akan terjadi kemerosotan dan menghilangnya hadis karena meninggalnya para ulama. Dan beliau memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm dan pegawai diseluruh wilayah kekuasaannya untuk membukukan hadis-hadis Nabi SAW. Hal lain yang mendorong ulama untuk mengumpulkan hadis adalah karena pada akhir abad pertama hijriah para penghafal hadis mkin berkurang jumlahnya. Mereka meninggal dunia disebabkan banyak peperangan yang terjadi pada saat itu, selain itu, kesadaran kaum muslim untuk menghafal hadis mulai berkurang, akibat keimanan mereka semakin melemah. [Khum,2008,41,11U] Dan Umar bin Abdul Aziz juga khawatir akan tercampurnya antara hadis-hadis yang shahih dengan hadis-hadis palsu. [Muda,2007,106,18U]
Pada awal pembukuan dan pengumpulan hadis-hadis tersebut tidak dilakukan klasifikasi, sehingga hadis-hadis itu baik yang shahih, hasan, maupun dhaif, bahkan patwa sahabat dikumpulkan dan dibukukan. Para penulis hadis mencampur adukkan hadis-hadis tersebut, sehingga orang yang taraf ilmu pengetahuaannya masih rendah tidak dapat memilah-milah hadis-hadis itu. [Nata,1996,165,2U]
Dan asal mula kemunculan ilmu hadis tidak terlepas dari hadis itu sendiri. Ilmu hadis muncul bersamaan dengan banyak terjadinya pemalsuan terhadap hadis, dan uraian diatas juga termasuk salah satu penyebab munculnya ilmu hadis. [Khum,2008,44,12U] Landasan teori dalam meneliti hadis mulai diterapkan pada abad ke-2H, yaitu pada masa Imam Malik dan Imam Syafi'i. Pada masa ini selain menyusun kitab-kitab hadis, para ulama juga membuat bangunan teori dalam menentukan kesahihan suata hadis. [Khum,2008,48,4U]
Hadis dan ilmu hadis semakin berkembang pada abad ke-3H. Pada abad ini, penyusunan kitab yang dilakukan oleh para ulama tidak seperti penulisan kitab hadis pada abad ke-2H yang masih mencampur aduk dngan fatwa-fatwa, akan tetapi, mereka menyusun kitab hadis berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkanny, atau lebih populer dengan sebutan kitab musnad. Dan pada periode ini juga, penulisan hadis mulai dilakukan dengan menggolongkan kedudukan atau kualitas setiap hadis. [Khum,2008,48,14D] Dalam hal ini, para perawi hadis tidak luput menjadi sasaran penelitian mereka, untuk menyelidiki kejujurannya, kehafalannya, dan lain sebagainya. [Nata,1996,166,17U]
Kalau pada abad pertama, kedua dan ketiga, hadis berturut-turut mengalami masa periwayatan, penulisan dan penyaringan dari fatwa-fatwa para sahabat dan tabi'in, maka hadis yang telah didewankan oleh Ulama Mutaqqddimin ( ulama abad ketiga) tersebut mengalami sentuhan-sentuhan baru, yakni dihafal dan diselidiki sanadnya oleh Ulama Muta'akhirin ( ulama abad keempat dan seterusnya). Sejak zaman ini timbullah bermacam-macam gelar keahlian dalam ilmu hadis, seperti al-Hakim, al-Hafidz, dan lain sebagainya. [Nata,1996,167,7U]
Dan pada abad ke-5 dan seterusnya merupakan periode pengklasifikasian dan pensistematisan hadis. Para ulama ahli hadis pada abad ini berupaya mengklasifikasikan hadis dengan menghimpun hadis-hadis yang sejenis kandungannya atau sejenis sifat-sifat isinnya dalam suatu kitab hadid. Disamping itu' mereka berupaya menguraikan maksud hadis dengan luas dan adapula yang meringkaskan kitab-kitab hadis yang telah disusun oleh ulama yang mendahuluinya. [Nata,1996,168,1U]

C.KESIMPULAN

Dengan mengikuti uraian diatas, nampaklah proses pertumbuhan dan perkembangan hadis dari zaman Rasulullah SAW hingga masa kini. Dan dengan adanya ilmu hadis semua itu dapat memberikan keyakinan bahwa para ulama memang bersungguh- sungguh melestarikan hadis dengan berbagai cara, yang dari tahap ketahap memperlihatkan kesempurnaannya. Dan pada abad ke-3 H merupakan tonggak kemajuan bagi ilmu hadis. Hal ini dibuktikan dengan semakin perkembang pesatnya penyebaran buku-buku ilmu hadis.
Namun demikian, tidak berarti bahwa pengkajian terhadap hadis telah selesai. Sejalan dengan tuntutan masyarakat modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu adanya modal pemahaman dan penguraian ajaran agama yang lebih menarik. Masyarakat sekarang sangat membutuhkan pegangan hidup yang dapat mengamankan dirinya dari hempasan gelombang kehidupan yang kian dahsyat. Mereka telah memiliki faham dan keyakinan yang diperoleh dari hasil pendidikannya, karena itu, perlu cara yang lebih canggih dam menyajikan ajaran agam kepada mereka kaum muslim. Apa yang disajikan dalam blog ini kiranya dapat membantu pembaca mendalami ajaran Islam lebih lanjut. Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

D. DAFTAR PUSTAKA

Drs. Abuddin Nata, M.A, Al-Qur'an dan Hadist, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1996
Prof. Dr. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jakarta, Universitas Indonesia ( UI Press), 1985
Irham Khumaidi , Ilmu Hadis untuk Pemula, Jakarta, Artha Riveera, 2008
Drs.H.Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar